Seperti dua titik lesung bulan sabit diatas teratai
Yang melambai Pada sepoi lentik dan gemulai
Sari itu budi
Serupa senyum kertas disetiap langkah tinta.
Begitupula dengan anggunnya Ibu
Saat kita menginjaknya berkali-kali.
Kereta itu masuk ke terowongan
Menabrak ratusan kelelawar yang mengganggu kunang-kunang dalam kepala yang bisu akan ihwal singkatnya usia api pada lilin bodoh.
Menyerang sekujur tubuh rusuh lelaki yang lupa akan banyak mimpi disetiap tidurnya.
Yang dia ingat hanyalah sosok berkerudung duduk dalam gelas terakhir yang sedang menganyam tikar bermotif segala bentuk dengan warna pelangi.
Syarif Wadja Bae
Surabaya-Ende.
Juli-September 2008.
Selasa, 09 September 2008
Selasa, 29 Juli 2008
Purnama-purnama
Kala purnama-purnama mencatat sejarah
Mengobral warna pesona jiwa
Mengtasnamakan hati entah kenapa
Semoga tidak mengucilkan esensinya
Masuk ketelinga
Terlintas didepan mata
Kadang tersaring, kadang hampa
Larut kedalam lalu kau hembuskan dengan raciikanmu
Aroma itu terbang dan menimbulkan
Persepsi-persepsi
Kemudian kau menyebutnya:
Itu purnama
Itu melati
Itu mawar
Coba pandangi setiap apa yang direfleksikannya
Jangan ceroboh untuk melingkari
Hampir setiap jejak dicatat
Harumnya terpancar dari lembaran yang maya
Awas terjebak fatamorgananya.
Biarkanlah singgasana itu terlahir
Jangan kau baluti dengan paksaan.
Memang itu firdaus
Jangan kau buat dia tercoreng
Kau Cuma menyikapinya
Jangan salahkan panggungnya
Lihatlah tarian yang kau pentaskan
Jangan kau telan sabda yang sudah kau tebar
Cahaya bulan itu tidak terlahir
Kaulah matahari yang membuat auranya terpancar.
bukan dengan logika yang menjadikanmu naif
syarif waja bae
Lingkar 18 september 2006
Mengobral warna pesona jiwa
Mengtasnamakan hati entah kenapa
Semoga tidak mengucilkan esensinya
Masuk ketelinga
Terlintas didepan mata
Kadang tersaring, kadang hampa
Larut kedalam lalu kau hembuskan dengan raciikanmu
Aroma itu terbang dan menimbulkan
Persepsi-persepsi
Kemudian kau menyebutnya:
Itu purnama
Itu melati
Itu mawar
Coba pandangi setiap apa yang direfleksikannya
Jangan ceroboh untuk melingkari
Hampir setiap jejak dicatat
Harumnya terpancar dari lembaran yang maya
Awas terjebak fatamorgananya.
Biarkanlah singgasana itu terlahir
Jangan kau baluti dengan paksaan.
Memang itu firdaus
Jangan kau buat dia tercoreng
Kau Cuma menyikapinya
Jangan salahkan panggungnya
Lihatlah tarian yang kau pentaskan
Jangan kau telan sabda yang sudah kau tebar
Cahaya bulan itu tidak terlahir
Kaulah matahari yang membuat auranya terpancar.
bukan dengan logika yang menjadikanmu naif
syarif waja bae
Lingkar 18 september 2006
Rabu, 09 Juli 2008
Kata dan Sapa Kelud
Anak dan asap penuh aura keluar
Dari singgasana rahim mulia.
Bersama hembusan sejuk
Menyapa para pujangga
Yang menembus dan berjalan
Pada kedalaman kata-kata semesta.
Matahari melirik dari balik gunung.
Melengkung dengan dua titik lesung.
Akankah tetap tegak seperti alif
Saat semua belum rampung?
Kediri, Juli 2008
Dari singgasana rahim mulia.
Bersama hembusan sejuk
Menyapa para pujangga
Yang menembus dan berjalan
Pada kedalaman kata-kata semesta.
Matahari melirik dari balik gunung.
Melengkung dengan dua titik lesung.
Akankah tetap tegak seperti alif
Saat semua belum rampung?
Kediri, Juli 2008
Langganan:
Postingan (Atom)