Baru saja kita sama sepakat untuk berterus terang pada PhiloSophia, namun kau masih selalu bergantung dan mengharapakan bantuan Tuhan..bahkan berteriak-teriak kepadaNYA.... lalu, apa kau paham dengan ungkapanmu kepada PhiloSophia???
kenapa harus selalu berteriak pada Tuhan? sementara DIA sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi, lebih dekat dari darah yang mengalir dalam dirimu, dan lebih dekat dari nafas yg kau hirup!! dan itu bukan sebuah metafora belaka!!.
saat kau diterpa masalah, kau selalu berteriak; Tuhan tolong, aku ada Masalah, keluarkan aku dari masalah ini Tuhan.... tapi kenapa kau tidak berteriak; wahai masalah aku yakin bisa mengatasimu karena Tuhan selalu bersamaku walau aku juga sedang bersama dosa....
aku tidak mengatakan kau salah, tapi kau selalu terjebak oleh logikamu yg menjadikanmu naif... kemudian kau tambahkan dengan nalar matematikamu, yang kau sebut itu semua berangkat dari kalbumu.....hahaha:) kementus!!
Syarif Wadja Bae
14 Maret 2009
Sabtu, 14 Maret 2009
Jumat, 27 Februari 2009
.......(tidak ada judul)
kau goresan pensil yg mudah dihapus...
padahal orang-orang sering merasakan luka...
bahkan ada yang menganggap semuanya sudah pupus...
apa maksudmu menjelma dalam goresan itu pada setiap murka...
sementara kau tak mau disapa sebagai malaikat ataupun setan yg paling halus...
aku akan membuat perhitungan denganmu kalau goresan itu adalah kosong dalam ada...
yang tak mau kau tunjukan dalam kalasuba saat air didaun itu tak ingin pergi karena neraka...
Syarif Wadja Bae
210209
padahal orang-orang sering merasakan luka...
bahkan ada yang menganggap semuanya sudah pupus...
apa maksudmu menjelma dalam goresan itu pada setiap murka...
sementara kau tak mau disapa sebagai malaikat ataupun setan yg paling halus...
aku akan membuat perhitungan denganmu kalau goresan itu adalah kosong dalam ada...
yang tak mau kau tunjukan dalam kalasuba saat air didaun itu tak ingin pergi karena neraka...
Syarif Wadja Bae
210209
Selasa, 10 Februari 2009
kepada PhiloSophia
kau yang menari dalam tiga detak jarum
seperti bulan yang bertengger di ujung rumput
sebelum pamit karena malu pagi telah datang.
dengan kelopak pipi saat segala daya hampir
dikirim keujung kuku dengan mesin ya garang,
titik sua itu serasa membentuk sepasang sayap yang memaksa terbang....
........................kepada philosophia, mari berterus terang...
Syarif Wadja Bae
Surabaya. Senin 090209
seperti bulan yang bertengger di ujung rumput
sebelum pamit karena malu pagi telah datang.
dengan kelopak pipi saat segala daya hampir
dikirim keujung kuku dengan mesin ya garang,
titik sua itu serasa membentuk sepasang sayap yang memaksa terbang....
........................kepada philosophia, mari berterus terang...
Syarif Wadja Bae
Surabaya. Senin 090209
Langganan:
Postingan (Atom)