Tempat yg mereka sebut surganya surga dunia itu kembali berdebu tebal, debunya melebihi tebal kulit badak.
Di surganya dunia itu Ibu-Ibu kembali menangis hingga airmata mereka kering, bercampur debu di pipi dan membungkam bibir manis mereka.
Pertanyaan unik kembali mereka sebut; kenapa di tempat yg orang-orang sebut surganya dunia ini dipadati teka-teki berbisa?
Sementara di balik layar sana, aktivis calo tersungging dengan dokumen palsu yg berisikan jutaan teka-teki yg tigabelas kali lipat lebih berbisa yg belum ditandatangani oleh sang penebar senyum pada Ibu-Ibu tadi.
Sebelumnya, dari tempat datangnya mentari di surganya dunia itu, tercium bau logam yg beratus-ratus windu berubah menjadi bau darah yg menempel pada belati yg merobek-robek jingga sanubari mereka yg selalu sabar akan pemerkosaan terhadap prinsip yg berulang-ulang.
Aku ingat cerita temanku tentang amarah bapaknya yg mengatakan; di surganya dunia itu sebaiknya penghuni yg telah berusia dewasa hingga yg paling tua dibunuh semua, agar yg hidup dan tinggal disitu hanya remaja & anak2 yg tidak tahu segala macam teka-teki berbisa.
Tapi aku heran, kenapa di surganya dunia itu sering terjadi kekacauan? Dan kenapa bapak dari temanku tadi berkata begitu?
Bukannya surga tempat yg teraman, tertentram, terindah dan segala yg paling ter, yg positif untuk umat manusia? Apa harus tanya kenapa?
Syarif Wadja Bae
Juli 2009
Senin, 27 Juli 2009
Minggu, 10 Mei 2009
Terkamu Keliru
Kau yang selalu menyala dibalik tirai mataku, menerka dari belakang kacamu tentang sepiku. padahal sepiku telah pergi bersama kesunyian pada sekian teluk yang kutemui dalam jalanku kesini bersama kapal yang berselimutkan corak musim yang menempel tebal pada dinding - dinding pilu. yang kau terka itu cuma perhentian sejenak. seperti mati dalam sepuluh detak.
Dan kemudian berlari kembali dengan kencang bersama roda yang diiris miris pada jalan tragis. setelah itu amarahmua melotot, melompat kearah mereka yang bercanda dengan kaos Tuhan atas tampilan acak yang kau anggapa penat.
Syarif Wadja Bae
awal mei 2009
Dan kemudian berlari kembali dengan kencang bersama roda yang diiris miris pada jalan tragis. setelah itu amarahmua melotot, melompat kearah mereka yang bercanda dengan kaos Tuhan atas tampilan acak yang kau anggapa penat.
Syarif Wadja Bae
awal mei 2009
Sabtu, 11 April 2009
Kata-kata Ini Untukmu
tenggelamlah dalam samudra bening.
dan berikan tanda disana. tanpa merusak beningnya.
terserah, apa yang kau rangkai disana.
tetaplah hati-hati karena itu.. samudra. walau bening.
kalau bingung, bacalah puisi tentang kapas dan karma.
selimuti dengan angklung. biarkan angin yang memandumu.
karena aku tau kau tak bisa memainkan angklung.
kemudian pelan-pelan pejamkan matamu. lalu,
satukan bening matamu dengan bening samudra itu.
tetap hati-hati yaa.. (kalau bingung lagi, sebut namaku)
syarif wadja bae
april 2009
dan berikan tanda disana. tanpa merusak beningnya.
terserah, apa yang kau rangkai disana.
tetaplah hati-hati karena itu.. samudra. walau bening.
kalau bingung, bacalah puisi tentang kapas dan karma.
selimuti dengan angklung. biarkan angin yang memandumu.
karena aku tau kau tak bisa memainkan angklung.
kemudian pelan-pelan pejamkan matamu. lalu,
satukan bening matamu dengan bening samudra itu.
tetap hati-hati yaa.. (kalau bingung lagi, sebut namaku)
syarif wadja bae
april 2009
Langganan:
Postingan (Atom)